Site icon SIN Sultra

Guru PAI di Pelosok Muna Tetap Mengabdi Meski Belum Bergaji

SULTRA.SIN.CO.ID – Di tengah deretan peserta yang serius menyimak materi pelatihan, perhatian sesekali tertuju pada seorang bayi yang terlelap di pelukan ibunya. Bayi mungil bernama Muhammad Ali Ramadhan itu bukan sekadar menemani, melainkan menjadi saksi perjuangan sang ibu, Wa Ode Sabaria, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di UPTD SD Negeri 6 Duruka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Tak ada keluarga yang dapat menjaga buah hatinya, sehingga Sabaria membawa Ramadhan mengikuti Pelatihan Teknis Manajemen Perpustakaan. Di sela-sela sesi pembelajaran, ia tetap menyusui bayinya sebelum kembali fokus menyimak setiap materi yang disampaikan narasumber.

Bagi Sabaria, mengikuti pelatihan bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai pendidik. Di balik langkahnya hadir tekad untuk membawa perubahan bagi sekolah tempatnya mengabdi, terutama dalam membangkitkan kembali budaya literasi di kalangan peserta didik.

Guru berstatus PPPK paruh waktu Pemda Kab. Muna itu mengungkapkan bahwa hingga kini dirinya belum menerima gaji. Meski demikian, keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangatnya untuk terus meningkatkan kompetensi sebagai pendidik.

Bersama seorang guru PAI lainnya, Sabaria bertanggung jawab mengajar 10 rombongan belajar. Setiap hari ia menempuh perjalanan dari rumahnya yang berada di kawasan pegunungan menuju sekolah dengan berjalan kaki sekitar 500 meter menuruni jalan, sebelum menggunakan angkutan umum sekitar 15 menit menuju lokasi pelatihan. Ongkos transportasi yang harus dikeluarkan mencapai Rp7.000 sekali jalan, sebuah pengorbanan yang tetap dijalani demi memperoleh ilmu baru.

Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya keterbatasan sarana, tetapi juga menurunnya minat baca anak-anak yang semakin akrab dengan gawai dan permainan digital.

“Saya berharap anak-anak di sekolah kembali meningkat minat membacanya. Jangan hanya bermain game di telepon genggam. Literasi itu sangat penting, karena wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra, yang berarti membaca,” ujar Wa Ode Sabaria.

Pelatihan manajemen perpustakaan yang diikutinya diharapkan menjadi bekal untuk menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sekolah sebagai ruang belajar yang menarik dan mampu menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap buku.

Di tengah berbagai keterbatasan, Sabaria tetap memelihara harapan agar suatu hari dapat diangkat sebagai guru PPPK penuh waktu. Baginya, pengabdian kepada dunia pendidikan tidak semata diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari kesempatan untuk terus mendidik dan membentuk generasi masa depan.

Pemandangan seorang ibu yang menggendong bayi sembari tekun mengikuti pelatihan menjadi potret nyata dedikasi guru di pelosok negeri. Di balik senyum dan kesederhanaannya, tersimpan semangat pengabdian yang tidak pernah surut, sekaligus pengingat bahwa kemajuan pendidikan Indonesia lahir dari ketulusan para guru yang terus berjuang, bahkan di tengah berbagai keterbatasan.

Exit mobile version